Cara Mengoptimalkan Perkembangan Otak Anak

Hello moms Sabtu lalu, 19 Oktober 2019 aku menghadiri event Parenting Club dan Clozette Indonesia yang bertema “Perkembangan Otak Kunci Kehebatan Si Kecil,” . di event kali ini hadir juga pembicara yang juga seorang dokter spesialis anak yaitu dr. DR. RA. Setyo Handryastuti, SpA(K). penasaran bagaimana keseruan acaranya? let the story begin..

Sponsored Links

Dalam grafik diatas bisa kita lihat perkembangan otak manusia sudah mulai berkembang sejak dalam kandungan, dan pada usia 2 tahun perkembangan otaknya sudah mencapai 80% yang mana masa tersebut adalah golden age. Kecepatan tertinggi pembentukan struktur dan sirkuit otak anak terjadi ketika anak masih berada pada usia di bawah 6 tahun, terutama pada kurun waktu usia sebelum 2 tahun (1000 hari pertama kehidupan). Maka dari itu sangatlah penting memberikan nutrisi dan stimulasi yang penting pada masa emas tersebut.

Kehebatan anak merupakan hasil kerja sirkuit otak. Semakin kompleks jaringan sirkuit otak yang dimiliki oleh seorang anak, maka semakin besar kapasitas anak tersebut untuk belajar mengembangkan berbagai kemampuan hebat lainnya. Otak anak berkerja atas dasar mekanisme yang sangat rumit dan rapi untuk memproses informasi melalui mekanisme komunikasi antar sel otak (neuron). Komunikasi antar sel otak tersebut akan berjalan melalui transmisi sinyal kelistrikan dan kimiawi (zat neuro-transmiter).

Komponen utama dalam proses belajar anak untuk mengenal dan merespons rangsangan dari lingkungan sekitarnya adalah melalui konsep bermain secara interaktif dengan orangtua/pengasuh sehari-hari. Pada saat bermain interaktif inilah anak berkesampatang mendapatkan berbagai pengalaman sensoris yang dibutuhkan untuk memperkaya jaringan koneksi antar sel otak.

Pengalaman sensoris adalah pengaktifan berbagai reseptor sensoris (ujung persarafan yang menerima rangsangan dari luar tubuh anak) yang terdapat di berbagai indera anak (indera penglihatan, indera pendengaran, indera penghidu atau pembauan, indera perabaan dan indera pengecapan). Reseptor sensoris inilah yang akan mengirimkan sinyal informasi ke dalam otak melalui jalur-jalur saraf yang sesuai dengan jenis informasi tersebut.

Misalnya, seorang anak ketika bermain menerima rangsangan sensoris berupa suara Ibunya, maka suara tersebut akan diterima oleh indera pendengaran yang di dalamnya terdapat ujung-ujung saraf pendengaran, dan kemudian informasi dalam bentuk suara tersebut akan dialirkan melalui saraf pendengaran ke dalam otak. Sampai di dalam otak, informasi suara tersebut akan dialirkan secara cepat melalui mekanisme kelistrikan dan kimiawi dari satu sel otak ke sel otak lainnya secara berurutan:

Sinyal informasi ditangkap oleh Sel Otak A → Sel Otak A akan teraktivasi dan bermuatan listrik → Muatan listrik dari Sel Otak A dialirkan ke Sel Otak B, melalui perantara berbagai molekul zat kimiawi atau yang dikenal dengan molekul neuro-transmiter → Sel Otak B akan teraktivasi dan bermuatan listrik → Muatan listrik dari Sel Otak B dialirkan ke Sel Otak C → dan seterusnya ke sel-sel otak lainnya secara cepat dan beruntun, dan akhirnya akan sampai pada tempat penyimpanan dalam bentuk memori di area otak tertentu yang secara khusus berfungsi untuk untuk menyimpan memori dalam bentuk suara.

Proses mulai dari masuknya informasi berupa rangsangan dari lingkungan sekitar anak, kemudian informasi tersebut ditangkap oleh indera anak dan selanjutnya informasi tersebut dialirkan, diolah, dan disimpan dalam berbagai area otak anak, kesemuanya merupakan dasar bagi anak dalam proses belajar dan menyimpan memori yang akan mengembangkan jaringan sirkuit otaknya.

Dua faktor utama yang berperan dalam proses pembentukan otak anak tersebut adalah (1) faktor Nature, atau juga dikenal dengan faktor genetik, yang berperan sebagai blue print atau “cetak biru” potensi seorang anak, dan (2) faktor Nurture, atau juga dikenal dengan “faktor pengasuhan”, yang di dalamnya termasuk asupan nutrisi, stimulasi, pendidikan, dan sebagainya, yang berperan sebagai pembentuk kemampuan anak dari rentang potensi yang dimilikinya. Kedua faktor tersebut akan berinteraksi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Di awal 1000 hari kehidupannya, anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, tidak terkecuali perkembangan otaknya. Pada tahun-tahun awal kehidupan, anak dengan cepat dapat belajar serta mengeksplor lingkungan sekitarnya. Sehingga, anak lebih mudah untuk meniru kebiasaan orang-orang di sekitarnya. Pada masa-masa inilah otak anak masih berkembang, sehingga rangsangan atau stimulasi untuk meningkatkan fungsi otak anak sangat diperlukan.

Bagaimana sih cara mengoptimal kan kecerdasan anak?

  • Nutrisi : bantu perkembangan otak anak dengan memberikannya nutrisi terbaik dari makanan yang bergizi. Hampir semua jenis nutrisi berperan dalam pembentukan otak, namun beberapa jenis nutrisi tertentu berperan lebih kuat dibandingkan jenis nutrisi lainnya. Nutrisi tersebut antara lain: dalam bentuk makro-nutrien (karbohidrat, protein dan lemak) atau dalam bentuk mikronutrien, vitamin, mineral atau zat-zat ko-faktor (besi, seng, tembaga, selenium, yodium, vitamin B, Vitamin A, Vitamin D, kalsium, asam folat, kolin, sfingomielin, fosfolipid, dan asam lemak rantai panjang (AA-DHA).
  • Stimulasi : berikan waktu anak untuk belajar dengan lingkungannya, kita juga bisa membantunya dengan berinteraksi dan bermain bersama anak.

Faktor nutrisi sendiri tidak dapat dipisahkan dari faktor stimulasi. Stimulasi merupakan kegiatan interaktif antara anak dengan orangtua/pengasuh sehari-hari dimana anak akan mendapatkan rangsangan dari lingkungan sekitarnya untuk belajar melakukan berbagai kemampuan. Sehingga, pada kegiatan stimulasi anak akan mendapatkan kesempatan belajar untuk mengembangkan berbagai kemampuannya.
Pada saat belajar inilah anak akan mendapatkan berbagai rangsangan sensoris yang masuk melalui panca indera yang dibutuhkan untuk mengembangkan, memperbanyak, dan memperluas jaringan sirkuit otak.

Setelah dokter menjelaskan dengan lengkap. Hadir juga mom Lily yang menjelaskan lebih dalam mengenai nutrisi dan simulasi yang tepat bagi Si Kecil. Mom Lily menjelaskan bahwa memberikan nutrisi dan simulasi yang tepat kepada Si Kecil dapat berpengaruh besar terhadap perkembangan otak dan kehebatan Si Kecil. @parentingclubid mempunyai dua sistem simulasi yang dapat membantu perkembangan otak Si Kecil, yaitu Kalkulator Akal Fisik Sosial dan Smart Strength Finder yang dapat di akses melalui website Parenting Club.

That’s a wrap! thank you so much Parenting Club dan Clozette Indonesia for having me, seneng banget bisa hadir di acara yang pembahasannya sangat penting kaya gini, karena anakku sendiri sedang dimasa golden age, aku jadi makin semangat membantu menemani tumbuh kembangnya ☺️

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *